Samarinda Tempo Doeloe: Saat Merdeka Terlambat Menggema di Benua Etam

Pejuang yang jumlahnya hanya puluhan orang itu, merencanakan untuk melakukan serangan yang mulai dilakukan pada 15 Januari 1947, di perumahan Belanda, yang berada di kawasan Teluk Lerong, atau tepatnya kini di Jalan RE Martadinata.
"Saat itu para pejuang mendapatkan persenjataan dari sisa tentara Jepang, dan ada juga yang membeli senjata dari pedagang Filipina yang berdagang di Sungai Mahakam," katanya.
Pada malam penyerangan, orang-orang Belanda saat itu tengah melaksanakan pesta dansa. Kendati penyerangan tersebut telah direncanakan, namun akibat kalah jumlah dan persenjataan Belanda yang lengkap, membuat para pejuang kembali dipukul mundur.
Lalu, titik pertempuran terakhir terjadi pada 28 Februari 1947 di kampung Pinang, yang sekarang berada di Jalan P Suryanata.
Saat itu, banyak korban jiwa dari para pejuang dan hanya terdapat 6 jenazah yang teridentifikasi.
"Di sini, penyerangan terjadi akibat salah satu pejuang keluar menuju kampung untuk membeli rokok. Hal itulah yang membuat persembunyian ketahuan," tutur Sarip.
Setelah itu, pejuang mundur ke Kutai Kartanegara, Kutai Barat, hingga ke Kalimantan Tengah.
Bahkan, akibat pertempuran di Sanga-Sanga, Belanda meminta bantuan pasukan dari Makassar. Bisa dikatakan secara fisik Belanda menang.
Kabar besar Proklamasi Kemerdekaan RI terlambat sampai di Benua Etamhingga perjuangan rakyat kaltim memperjuangkan kemerdekaan.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Kaltim di Google News